Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Mahar. Show all posts
Showing posts with label Mahar. Show all posts

Friday, 24 May 2013

Mahar (yang katanya) ala-ala Scrapbook...

Oke, setelah bahas soal mahar apa yang aku minta dari pipi yang curhatannya bisa diintip di sini, sekarang sesuai janjiku aku mau bahas soal hias maharnya ^^

Kayak yang aku sebutin di postingan sebelumnya soal mahar itu, aku pengen hias maharku sendiri. Kayaknya ribet banget aku jadi bocah, yak? Padahal kan tinggal bayar orang bikinin hiasan maharnya dan selesai. Eum... mungkin karena aku pengen semua yang berhubungan dengan pernikahanku meninggalkan kesan. Kalau aku kerjain semuanya sendiri, termasuk printilan kayak hias mahar gini, ada kepuasan batin yang nggak bakal bisa dibeli dengan uang berapa pun! Hoho! #dramatisir

Well, dari pertama aku pengennya sih bisa hias mahar ala scrapbook. Selain unik karena masih jarang yang hias mahar ala scrapbook (fyi, di kota tempat tinggalku Bandar Lampung, peminat scrapbook masih minoritas banget dan toko yang jual bahan-bahan scrapbook cuma ada sebiji doang), aku liatnya lucu aja gitu kalau mahar dihias ala scrapbook daripada mesti dihias bentuk macem-macem kayak masjid, binatang, orang-orangan, dll. Eits, ini bukan doktrin tapi murni soal selera lho! #sumpah

Scrapbook sendiri berasal dari kata scrap yang dalam Bahasa Inggris artinya barang sisa. Scrapbook merupakan seni kreatif menempelkan foto, barang-barang sisa, dan sejenisnya pada sebuah media (biasanya kertas). Tapi ternyata, biar kata namanya 'scrap', bahan pembuat scrapbook sekarang sih nggak melulu dari barang bekas. Malah sekarang biar lebih cihuy diliat, scrapbook dibuat dengan menggunakan bahan-bahan khusus untuk scrapbooking. Dan berdasarkan pengalamanku yang beli material scrapbook untuk hias mahar di store-nya, aku baru tau ternyata harganya nggak bisa dibilang murce, cyiin! Mungkin juga karena masih belum ada pesaing, owner store-nya sengaja jual dengan harga tinggi. Huhu. Kamu harus siapin budget minimal cepek cuma buat beli bunga-bungaan dan kupu-kupu malam hiasannya. And you know what? Total kerusakan beli semua bahan-bahan scrapbook itu 400rb-an! He-eh, seriusan deh! Ternyata nggak semua yang bekas-bekas itu murah meriah ya, bo?? T_T

Bahan-bahan scrapbook yang begituan doang mahalnya aje gile jungkir balik jengkang!

Oke, lupakan tragedi dompet yang langsing dalam hitungan detik gara-gara si material scrapbook! Karena emang niat awalnya pengen iseng bikin hias mahar sendiri, apapun resikonya dihadepin aja, deh! Semangat! #hiburdiri

Jadi, bermodal nekad dan jiwa kreatif (baca: kere, aneh, dan aktif) yang nggak wajar, akhirnya aku hiaslah itu mahar yang udah dikasih pipi. So, this is my very first time bikin kerajinan tangan mahar scrapbook kayak gini, dibantu pipi ngerjainnya. Setelah gupek cari referensi dari berbagai sumber, inilah dia hasil prakarya dari ke-ababil-anku yang ajaib ini: mahar (yang katanya) ala-ala scrapbook! :D

Mahar sebelum dibingkai
Maharnya udah dibingkai jadinya begini :-)
Yang ini juga lebih jelasnya mahar yang udah dibingkai ^^

Tema maharnya apa, ya? Eum... bunga dan kupu-kupu galau kali, ya? :D

Itu yang gulungin duit-duit kertasnya pipi, lho! Hehe. Bangga deh sama camiku yang mau diajak kerja rodi hias mahar ini! :-*

Hasil perasan keringat pipi, nih! Sugoi chayanx mimi! ^^
Kerja kerasnya camiku yang gulungin duitnya ^^

Btw, secara hasrat narsis yang gede banget #plak, jadilah foto prewed harus ada juga di mahar, duong! Wkwk! Cuma biar kesannya beda dan coba jadi narsis beradab *istilah yang aneh _ _" *, jadilah yang aku tempel cuma foto kaki aku dan pipi aja. Mukanya diumpetin dulu aja, ya? XD

Kaki-kaki yang eksis :p

Ini foto-foto pengerjaan dan detailnya mahar scrapbook buatanku ^^


Not bad lah ya untuk amatiran kayak aku? Hoho. Siapa tau ada yang minat pengen dibuatin mahar macem gini, boleh... asaaaaalll, wani piro??? Jiakakak!!!

Siapa tau ada yang pengen ikutan bikin sendiri maharnya ala scrapbook kayak gini, ya monggo aja. Mudah-mudahan bisa jadi referensi buat para bridezilla yang lagi kebingungan pengen dibikin apaan hiasan maharnya. Makasih yang udah mau baca. Update-an tentang prepare meritku lainnya menyusul, ya! :-)

Maharku adalah Kesanggupanmu...

Wow! Wow! Wow! Nggak kerasa ternyata tinggal kurang lebih 1 bulan lagi sebelum hari H. Dan woooow... masih banyak banget hutangku untuk update blog ini tentang segala macem persiapan meritku. Huhu. Sebenernya sih pengen banget bisa posting satu per satu dari kemarin-kemarin. Tapi berhubung banyak banget hal yang mesti disiapin, aku jadi males buat curhat di blog yang nggak seberapa ini _ _"

Oke, sekarang aku cicil ya persiapan yang belum di-update. Hehe. Kita mulai dari yang menurutku penting dulu dalam sebuah pernikahan, yaitu mahar. Kalau dalam ajaran agamaku Islam, salah satu syarat menikah ya kudu ada maharnya.

Mahar atau Mas Kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan (source: id.wikipedia.org). Bentuk mahar biasanya berupa uang tunai, emas, tanah, rumah, dan macam lainnya yang memiliki nilai uang sebagai acuannya. Tapi ada juga yang memberikan seperangkat alat solat, jasa, atau menaikkan haji istrinya. Mahar sepenuhnya hak dari CPW untuk meminta atau menolak pada CPP yang melamarnya. Namun, meski diberi hak veto menentukan bentuk dan jumlah mahar apa yang diinginkannya dari CPP, sebaiknya CPW menetapkan mahar yang nggak memberatkan sang CPP, ya! ^^

“Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana.” (HR An-Nasa’i)

“Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya, ringan maskawinnya, dan subur rahimnya.” (HR Ahmad)

Mahar sifatnya bukan ketetapan tapi kesepakatan antara kedua belah pihak. Kemampuan tiap orang berbeda. Jadi sebaiknya mahar disesuaikan dengan kemampuan CPP untuk bisa memenuhinya. Mahar bisa dibilang 'nafkah' pertama suami kepada istrinya. Jadi, yang terpenting dan perlu diperhatikan, bukan besar kecilnya nilai mahar, tapi gimana usaha si laki-laki dalam memenuhi kewajibannya mendapatkan mahar itu.

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa: 4)

Awalnya aku sempat bingung waktu ditanya pengen mahar apa. Kalau alat solat kayak kebanyakan orang, aku pribadi ngerasa terlalu berat. Takut banget kalau nggak amanah sama mahar yang udah aku minta. Huhu. Setelah mikir-mikir, akhirnya dengan berpedoman hadits dan Al-Qur'an di atas, aku mutusin minta mahar di luar alat solat yang insyaallah nggak memberatkan pipi. Aku nggak minta emas puluhan gram, duit berpuluh-puluh juta, rumah, atau bahkan mobil mewah seharga milyaran rupiah. Mahar yang aku minta dari pipi cukup uang tunai yang disesuaikan dengan tanggal merit kami nanti. Sempat gonta-ganti nominalnya sampe akhirnya aku pilih yang paling simpel dan ringan sejumlah Rp. 23.613,-. Semuanya sesuai tanggal pernikahan nanti, yaitu 23 Juni 2013. Satu hal lagi yang aku minta untuk mahar itu adalah uang maharnya harus uang kuno semua. Terserah dari tahun berapa aja. Pipi menyanggupi dan bilang kalau maharku nggak memberatkan dia sama sekali. Alhamdulillah yaaa...! *Syahrini eksis*

Setelah menyanggupi sejak akhir tahun lalu, pipi langsung berburu berbagai lapak uang kuno dari berbagai sumber, termasuk internet, sampe akhirnya pipi berhasil mengumpulkan semua uang mahar yang aku minta. Nah, di sinilah kebegoanku kumat. Awalnya aku minta uang maharnya koin semua. Eh, setelah pipi kumpulin susah-payah, tiba-tiba seenak udel aku minta ganti beberapa uang koin jadi uang kertas! Alesannya? Karena aku pengen hias sendiri maharku nanti. Kalau maharnya koin semua, aku bingung mesti hias begimane! =..=" #ngehe #alasanbodoh

Final uang mahar yang aku minta dari pipi ^^
Untungnya, pipi nggak ada masalah dan langsung aja gitu dia nyanggupin sampe akhirnya terkumpullah duit mahar sejumlah yang aku minta, nggak kurang dan nggak lebih. Makasih, sayaaaangg!!! #pelukpipikenceng

Jadi, duit maharnya udah ada. Sekarang tinggal hiasnya. Kayak yang aku bilang, aku pengen hias maharku sendiri. Gimana hiasnya? Dilanjut aja di postingan berikutnya, ya! Ja ne...!!! ^^

Saturday, 9 February 2013

(Calon) Manten Galau


Rempong. Mungkin itu yang bakal aku bilang kalau ditanya gimana rasanya nyiapin pernikahan sendiri tanpa bantuan Wedding Organizer atawa WO. Terus aku bakal lanjutin jawab: rasanya juga pening, capek, ribet, sutris, deg-degan, jantung berdebar, bimbang, lemah, lesu, lunglai *sindrom lebay kronis: on*, tapi sekaligus seneng dan puas. Ya. Semua komplikasi itu aku rasain dalam waktu bersamaan. Dan akhirnya sodara-sodara sebangsa dan se-Tanah Air Beta, udah bisa ditebak ujungnya bakal berakhir dengan "galau ending"! *ngarang*

Sejak awal aku niat merit, aku memang nggak mau dan nggak pernah kepikiran pakai jasa WO. Bukan cuma soal budget yang keluar bisa dua kali lipat, tapi aku juga ngerasa kurang ada kepuasan batin kalau big day di hidupku disiapin sama orang lain. Well, mungkin bagi sebagian capeng yang sibuk dan pastinya punya dana berlebih, menggunakan jasa WO adalah hal yang lumrah. Terutama WO yang pro dan udah punya nama. Tapi buatku, susahnya kita nyiapin dan ngurus ini-itu demi sebuah pernikahan impian secara swadaya, bakalan lebih berkesan. Seenggaknya kita bisa punya cerita yang bisa kita bagi ke anak-cucu kita untuk sekedar sharing pengalaman yang terjadi sekali seumur hidup. Iya, nggak? Iya, dong! *maksa membabi-buta*


Jadi kayak yang aku bilang di awal, efek samping dari kemandirian itu bisa berujung pada kegalauan tak berujung. Aku lagi ngalamin itu. Pasalnya, saking banyaknya hal yang harus diurus, aku sampai bingung dari mana aku mesti mulainya. Nggak tanggung-tanggung, untuk ngatasin ke-telmi-anku, aku udah nyoretin satu buku yang aku siapin khusus sebagai Wedding Planner-ku. Isinya mulai dari apa aja yang kudu disiapin, budgeting, list berbagai vendor, schedule tiap bulan, daftar tamu undangan, sampai resep sayur asem (lho?), semua aku tulis di situ. Maksudnya sih biar aku punya acuan untuk nyiapin hari H nanti. Tapi planning tinggal planning. Toh kenyataannya, banyak yang berubah dari rencana awal. Tapi nggak semuanya sih. Syukurnya. Dan itu pun dikarenakan sikon di lapangan lebih binal dari yang tertulis di kertas _ _"

 

Misalnya aja planning yang mau beli segala pretelan kekurangan merit setelah prewed. Bulan ini, aku dan pipi udah dijadwalkan untuk foto prewed. Dan aku baru tahu, ternyata persiapan prewed itu sama ribetnya dengan nyiapin pernikahan itu sendiri. Bedanya, keribetan prewed masih dalam skala yang jauh lebih kecil. Jadilah aku dan pipi harus fokus untuk nyiapin prewed dulu sebelum nyiapin yang lain. Tapi emang dasar capeng ganjen bin centil, sambil nyiapin prewed yang tinggal bentar lagi, aku iseng-iseng tanya berbagai vendor yang jualan souvenir dan box hantaran pernikahan. Iseng tanya beberapa box yang aku mau untuk melengkapi box seserahan dan angsulanku yang masih kurang, ternyata ujungnya aku malah shopping di salah satu vendor yang menurutku harganya lumayan miring dibanding vendor sejenis lainnya. Malah akhirnya bukan cuma box yang aku beli, tapi juga tutup mika dan hiasan pita untuk box sekalian. Naluri emak-emak doyan borongnya tiba-tiba nongol! Haha! Abisnya malu hati juga, udah SMS-an sama si mbaknya yang punya vendor itu dari siang sampai malem, terus ditanya, "jadi gimana, mbak? Mau yang mana? Berapa?", eh... ujungnya nggak jadi beli. Tengsin, cong! Jadilah aku manut aja ngikutin kemauan si mbak-mbak vendor untuk beli dagangan dia. Wkwk! Bilang aja modus pengen belanja! *kabur genjot becak*

Dan, kebetulan baru aja si mbaknya SMS ngagetin kalau orderanku udah kelar dibuat. Foto salah satu orderanku, yaitu pita hias customized, di-upload di FB si mbaknya. Nih, sekalian aja aku pamerin ya? ^^

Order from www.rumahhantaran.com or you can add FB ownernya: "Yenny Ikarini" :-)

Eniwei, nyinggung soal prewed lagi, sebenernya planning prewed kami pun bergeser dari tanggal yang udah disepakatin sebelumnya. Untungnya, gesernya sih nggak jauh-jauh. Cuma diundur seminggu dari jadwal yang ditetepin. Sempet sedikit shock dan (lagi-lagi) galau, waktu Mas Irfan si fotografer prewedku, tiba-tiba nelpon minta tanggal prewed kami harus diubah karena alesan tertentu. Setelah transaksi tanggal (lho?), akhirnya diputusin kalau kami bakalan difoto prewed hari Minggu, tanggal 24 Februari 2013. Aku sengaja minta hari Minggu karena sekolah biasanya sepi di hari itu. Eh, sekolah? Yup! Aku pakai sebuah SD swasta di kotaku sebagai lokasi foto prewed kami. Aku nggak mau dong kalau pas lagi serius pose, ada banyak anak SD ngerubungin kami kayak lagi nonton topeng monyet. Jadi bukan cuma harus fix ulang tanggal dengan pihak sekolah, aku juga harus konfirmasi lagi ke salon yang bakal aku pakai untuk make up-in waktu prewed. Soalnya, si mbak-mbak yang bakalan ngelenongin aku nanti bakal ngintil kami prewed seharian. Tuh kan rempong, cyin?

Oke, nggak cukup sampai di situ kegalauanku. Aku juga galau soal mahar. Awalnya aku minta mahar ke pipi sejumlah uang koin sesuai tanggal merit kami nanti. Tapi di suatu malam yang dingin dan senyap tanpa suara tokek, aku tiba-tiba minta beberapa uang koin yang udah disiapin pipi sebagai mahar diganti dengan uang kertas dan semuanya kudu uang kuno. Alesannya sih biar hias maharnya nanti lebih mudah. Soalnya, niatnya aku memang pengen hias sendiri maharku nanti supaya lebih irit (atau pelit? _ _" ). Kalau koin semua, ideku mentok. Tapi kalau ada uang kertasnya, ada aja ide yang nyelip. Eh, pas pipi udah sanggup untuk ganti mahar yang aku minta, tiba-tiba aku bilang kalau hiasnya nanti di vendor aja. Alesannya, biaya yang dikeluarin kalau kita hias sendiri dan hias di vendor nggak beda jauh. Biar pipi yakin, aku jabarin rincian biayanya dengan gaya sok jadi akuntan dadakan. Wkwk! Giliran pipi udah ACC, eh... aku malah ngomong lagi kalau aku mau coba hias sendiri aja, nggak jadi pakai jasa vendor. Gubrak! *pipi langsung ngasah golok*

See? Kegalauan laknat ini bener-bener lagi nyerang aku dengan riang gembira. Sampai-sampai aku juga galau aku ini cantik atau manis, sih? Jiakakak! *readers minggat sambil ngupil*

Oke, lupakan! Intinya, persiapan pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah. Nggak semudah yang tertulis di Wedding Planner, nggak semudah yang diajarin guru agamaku soal syarat nikah, dan nggak semudah yang pernah aku tonton di film kartun waktu Cinderella nikah sama pangerannya. Karena Cinderella nggak perlu minta surat keterangan ke Ketua RT-nya atau ngurus administrasi ke KUA buat nikah.