Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Lovely Love. Show all posts
Showing posts with label Lovely Love. Show all posts

Monday, 25 November 2013

Review Resepsi (Sederhana)

Sekarang lagi hits banget resepsi pernikahan di gedung mewah. Demi mengikuti tren (atau gengsi?), banyak capeng yang kayaknya 'mewajibkan' diri agar pesta pernikahannya nanti juga diadakan di gedung dengan segala kemewahan sealaihum gambreng. Sah-sah aja selama mampu. Lain ceritanya kalau 'memaksakan' untuk mampu, ya! Jujur, gue salah satu orang yang nggak mau repot memaksakan itu.

Sejak awal, gue pengen resepsi pernikahan cukup diadakan dengan sederhana di rumah. Hemat. Itu poin utamanya. Gue pikir budget untuk sewa gedungnya lebih baik dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting atau tambahan biaya hidup setelah merit. Kalau toh ada juga gedung yang harga sewanya murce di bawah sepuluh jeti, gue tetep keukeuh pengen di rumah aja. Soalnya walau harga sewa gedungnya murah, lha emang kita merit cuma butuh gedung kosong doang yang nggak pake kursi dan dekorasi? Belum lagi charge vendor non-rekanan gedung, transportasinya, deesbre deesbra. Itu semua butuh duit yang buanyak bukan daon kelor campur tissue plus nasi bungkus aja, masbro! So, a big no no for me! Sekali lagi, daripada menghamburkan duit hanya untuk perayaan sehari aja, mending duitnya bakal tabungan masa depan gue dan pipi.

Selain itu, bagi gue rumah adalah venue yang punya fleksibilitas tinggi soal waktu. Kita bisa memulai dan mengakhiri pesta kapan aja kita mau. Kalau di gedung, dateng telat dikit aja bisa berabe yang biasanya sih berimbas pada nggak kebagian makanan. Ngenes. Klise dan klasik, tapi akhirnya rumah tetap pilihan venue resepsi ideal bagi gue. Kecuali kalau ada yang mau modalin nikahan gue dengan budget tak terhingga dan gedungnya bisa disewa sehari semalam tanpa biaya tambahan. Haha!

Resepsi gue dimulai dengan upacara Panggih. Klik aja gambarnya untuk lihat lebih jelas ^^

Acara resepsi gue berlangsung di hari yang sama setelah akad nikah, yaitu Minggu, 23 Juni 2013, tepat jam 10 teng sesuai schedule. Beda banget sama akad yang kudu molor setengah jam gara-gara manten dodol (take a peek cerita akad). Tradisional Jogja bernuansa warna maroon jadi tema resepsi gue. Acara diawali dengan upacara Panggih ala Jogja, upacara Bubak Kawah (makna simbolis dalam adat Jawa bahwa saat itu orang tua gue mantu pertama), Tari Karonsih dan pelepasan sepasang merpati, ditutup doa, and the last... acara santap-menyantap! Sementara para tamu pada binal menyerbu buffet dan pondokan biadab yang bikin nggak kuat iman, mantennya malah langsung sibuk riang gembira meladeni para tamu lainnya yang nggak binal sama buffet dan pondokan yang ngebet foto bareng kita tiap abis salaman. Hoho! *manten sok ngartis*

Upacara Bubak Kawah, Tari Karonsih, dan pelepasan sepasang merpati. Klik gambarnya untuk memperbesar ^^

Eniwei baidewei nowei, walau niat awalnya diadakan dengan sederhana di rumah, pada akhirnya resepsi gue malah jadi meriah, sodara-sodara! Dipastikan lebih dari 1.000 tamu yang hadir. Sebenarnya gue cuma pengen mengundang sedikit orang. Tamu gue sendiri cuma terdiri dari para sahabat dan rekan kantor yang nggak lebih dari 50 orang. Tapi rencana itu menguap begitu aja. Orang tua gue sangat nggak setuju dengan ide itu. Budaya kita yang masih terlalu mainstream bahwa sebuah pesta pernikahan harus mengundang semua orang yang dikenal kayaknya jadi alasan utama orang tua menolak ide minim tamu gue. Kalau pada nggak diundang, nanti takut jadi omongan orang, takut disangka sombong, nggak enak hati, bla bla bla. -__-"

Gue pun mengalah untuk mau menambah undangan. Hasil kompromi nggak boleh lebih dari 600 orang, dengan pembagian 50% jatah bokap-nyokap dan 50% buat gue, pipi, mama calon mertua (waktu itu masih calon), dan para kakak. Tapi riilnya sih undangan untuk orang tua gue membengkak dan disiasati dengan (terpaksa) memangkas list tamu kita dan yang lain. Itu pun masih kurang juga karena kayaknya 600 undangan itu mestinya jumlah tamu orang tua gue sendiri. Ckckck! Gue dan pipi akhirnya (atau begonya?) malah latah mengundang semua teman yang layak diundang (yang totalnya buncit jadi 200-an orang!) melalui social media dikarenakan keterbatasan undangan fisik yang ngepres. Weleh... weleh... bener-bener luluh lantak intimate party impian gue! *jedotin kepala ke panci*

Tapi ya sudahlah, pemirsa... bagaimana pun pernikahan kan melibatkan banyak pihak termasuk orang tua, jadi saling menghargai aja. Meski di sana-sini masih banyak kekurangan dan agak melenceng dari planning awal, gue tetap bersyukur karena banyaknya tamu berarti banyak orang yang mendoakan kita. Yang penting acaranya berjalan lancar, tamu senang, makanan berlimpah bahkan sisa banyak, dan mantennya cakep! Yang terakhir itu ahey sekali! XD

Pada akhirnya, gue merasa pernikahan gue tetap sederhana, tapi meriah. Meriah tapi nggak berlebihan. Semuanya diselenggarakan sesuai dengan kemampuan dan alhamdulillah selesai acara masih ada sisa tabungan di ATM dan sisa dana lainnya yang kita pake untuk kredit motor. Yah... balik lagi ke prinsip, sih! Sesederhana atau semewah apapun, yang namanya pernikahan tetap aja disebut pernikahan. Resepsi hanya sebuah ceremonial belaka. Yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga setelah resepsi itu berlangsung. Ya, nggak? *kesambet Mario Teguh*

Sepintas soal vendor (review detailnya segera menyusul, ya! ^^ )
  • Make Up, Adat, dan Dekorasi: Salon Shinta (Ibu Sundari). Penampakan bijimane ketiganya diklik aja foto-foto yang eksis di sini, ya! :p
  • Catering: Catering Kartini. Ueenaaak (pengakuan dari beberapa teman sih mereka sampe ketagihan pengen makan mulu! :D ), dapet diskon dan bonus, dan masih sisa banyak walau tamu rame banget!
 
  • Dokumentasi: Infra Photoworks (Mas Irfan and team). Yuk monggo kamu nilai sendiri jepretannya Mas Irfan dkk melalui foto-foto yang gue pamerin di posting ini! ;-)  
 
    • Tenda: Estu Sae Group. Sori tapi gue harus jujur, ini vendor paling nggak banget di acara gue. Gue bakal curhat di posting khusus vendor. :'-(
    • Entertainment: Juwita Music. Gue nyebutnya sih the Awesome Juwita of the Kampung. Alasannya? Cek posting khusus vendor aja, ya! :p
    • Undangan dan Souvenir: Jogja Kreasi dan Ucok Souvenir Jogza. Disesuaikan tema yang tradisional, undangannya bambu dengan desain khas Jogja. Souvenirnya juga dipilih yang kesannya tradisional tapi punya manfaat kayak centong nasi kayu sonokeling itu. :-)
        • Scrap-Guest-Book: Crafty Patty. Udah pernah dibahas scrap-guest-book gue di tekape ini, jadi silakan diintip aja or ditunggu review-nya lagi di posting khusus vendor! ^^
         
                • Henna dan Nail Art: Pita Henna dan Belleza Salon. Cerita nail art sebenarnya udah pernah dikupas di sini. Tapi untuk vendornya, bakal dibahas khusus, ya! ^^
                 

                  The People:
                  My family
                  Pipi's family
                  Our family
                  dengan para kakak dan para adik :3
                  Foto bareng girlband paling fenomenal abad ini: The Mbah! Nyahaha! *dilempar sirih*
                  My big famz
                  My besties ever: SanDeGA! Kita udah sohiban selama kurang lebih 12 tahun! Sayang, minus 3 personil di foto ini. Cho, Chibi, dan Ceatinx ada di luar kota dan sikonnya nggak memungkinkan balik ke Bandar Lampung. Hiks! Tapi Cho diwakilin nyokap dan adiknya dateng ke resepsi. Kalau Chibi dan Ceatinx kasih selamat dan doa via SMS dan pesbuk. Dari ki-ka: Bhoim, Mami Anya, Chiki, dan Alya. Fyi, nama yang terpampang itu adalah nick masing-masing bukan nama asli! :p
                  Ria (left) dan Keti (right) ini juga sohibul khoir gue sejak ngampus dulu. Terutama Ria yang sering ikutan gue nge-gahol bareng SanDeGA. Eh, si Ria ini lagi demen banget curhat soal ke-gundah gulana-annya dia akibat jombloisme sialan, pemirsa! Apakah ada laki-laki di luar sana yang bersedia menyingkirkan kegalauannya? Hayoo... tunjuk kaki! :p

                  Terakhir adalah galeri foto Duo Narsis (baca: gue dan pipi) yang ngeksis di kewongan. Silakan dicekibrot dan muntah berjamaah! Wkwkwk! Kalau perlu nggak usah dilihat aja, deh! Karena virus narsis itu bisa menular! Nyahahaha! *ngakak salto*
                  • Ageman/busana pertama: Paes Ageng Kanigaran
                  • Ageman/busana kedua: kebaya modern maroon

                        Friday, 25 October 2013

                        Review Akad Nikah

                        Gue kebangun dari tidur-tidur ayam gue yang cuma sekitar 2 jam-an karena kaget liat keluarga pipi yang tiba-tiba dateng ke rumah jam 4 subuh. Gue bengong aja gitu liatin keluarga pipi dan malah mikir ngapain mereka pagi-pagi buta ke rumah gue? Ketelmian gue baru mulai hilang setelah nggak lama kemudian Ibu Sundari dan Tim Salon Shinta-nya ikutan nongol. Twew! Jenius banget dah! Bisa-bisanya dong gue lupa kalau hari itu gue bakalan merit! Dengan nyawa yang masih belum kumpul sepenuhnya, gue pun langsung minggat ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, setelah itu baru siap didempul. Haha... parah, ya! Sumpah parah banget dan ini beneran gue alamin! *tepokin jidat dengan binal*

                        Yak, begitulah gue mengawali hari paling bersejarah di hidup gue pada Minggu, 23 Juni 2013. Sangat brilian! Akibatnya jelas aja, jadwal akad yang semestinya jam 7 teng dimulai jadi molor setengah jam. Padahal sebelumnya beberapa kali penghulunya dateng ke rumah buat mengingatkan kalau akad nggak boleh ngaret soalnya jadwal beliau menikahkan pengantin di hari itu padet banget. Dan karena kebetulan gue dapet giliran jam pertama, maka kelancaran waktu akad-akad setelah gue tergantung on time atau nggaknya akad gue. Huhu... sumpah jadi nggak enak banget sama penghulunya! Untungnya Pak Penghulu orang yang sangat sabar. Beliau tetep menjalankan tugasnya dengan baik sampai selesai, walau setelah itu langsung buru-buru pamit untuk lanjut ijab-qobul-in di tempat lainnya. Makasih banyak dan mohon maaf, ya Pak! :-(


                        Akad nikah gue berlangsung sederhana di rumah orang tua gue di daerah Way Halim Bandar Lampung. Akibat waktu yang molor dari jam seharusnya, akad gue dilakukan secara kilat. Setelah pembacaan ayat Al-Qur'an dan khutbah nikah singkat dari Pak Penghulu, pipi dan bokap gue latihan sebentar untuk ijab-qobul. Setelah dipastiin latihannya oke sama para saksi dan hadirin, akhirnya ijab-qobul sebenarnya langsung dilakukan. Dan cuma dalam hitungan sepersekian menit, gue resmi jadi bini orang! Hyaaa... udah tho begini doang? Nggak ada sesuatu yang heboh gitu? *dan gue pun ditimpuk I-Phone 5 sama pipi*

                        Saat ijab-qobul
                        Penyerahan mahar. (Dok. pribadi)
                         

                        Tapi beneran, deh! Mungkin kelupaan karena terburu-buru, setelah penghulunya meminta kami menandatangani dokumen-dokumen, yang dilanjut penyerahan mahar sejumlah Rp. 23.613,- yang dihias (oleh gue sendiri *bangga* ) dalam bentuk scrapbook, penghulunya langsung cabut. Padahal di atas meja akad udah disiapin sepasang cincin nikah yang kudunya disematkan pada saat itu juga. Untung gue bisik-bisik ke bokap soal cincin itu dan akhirnya penyematan cincin pun dilakukan tanpa aba-aba penghulu.

                        Oya, ada kejadian lucu waktu penyematan cincin nikah. Waktu gue mau pasangin cincin nikah pipi, cincinnya kekecilan, bo! Padahal waktu dulu kita mesen, ukuran cincin pipi udah pas (wah, cincinnya yang mengecil atau pipi yang melebar, ya? :p). Jadi gue mesti maksain itu cincin nyumpel di jari manisnya pipi. Alhasil gara-gara liat gue yang kesusahan masukin cincin ke jari pipi, para hadirin kompak ngetawain kita berdua, dong! Gue pun jadi ikutan nyengir. Akhirnya suasana akad yang sempet tegang jadi cair seketika. Wkwk! And you know what? Menurut cerita nyokap, kejadian kayak gini persis pernah dialamin juga sama bokap dan nyokap waktu mereka merit dulu, di mana nyokap juga kesusahan masangin cincin nikah di jari bokap karena cincinnya kekecilan! Beneran ini mah, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya lah, ya? :D

                        Lancaaar aman jaya cincinnya masuk ke jari gue
                        Cincinnya mentok di situ aja! Jiakakak!
                        Gue nahan pengen ngakak itu sebenernya! XD

                        Finally, walaupun ada sedikit kekacauan waktu dan beberapa kejadian di luar skenario, akad gue alhamdulillah berjalan lancar. Cuaca pagi itu cerah banget dan nggak ujan sama sekali, padahal saat itu lagi musim ujan. Pipi juga cuma sekali aja mantap mengucapkan qobul-nya, tanpa membaca teks. Latihan hapalannya sukses ya, chayanx? :p

                        Kalau yang biasanya suasana akad bakal dihiasi dengan tangis haru, beda halnya dengan akad gue kemarin. Setelah penyematan cincin selesai, nggak ada yang namanya pamitan anak ke orang tua, sungkeman, pelukan, atau hal-hal lain yang biasanya terjadi saat akad dan memicu orang-orang nangis bombay. Bokap sendiri yang saat itu langsung ngasih kode ke MC kalau acaranya dipersingkat dan hadirin langsung diminta menikmati sarapan aja. Tissue yang sebelumnya disumpelin Ibu Sundari ke tangan gue (yang dimaksudkan buat jaga-jaga lap mata kalau gue mewek), rasanya jadi mubazir aja. Hihi. Akad hari itu pun berakhir dengan riang gembira aduhay tanpa ada setetes pun air mata. Wkwk! Canggih bener emang akad gue, kan? :D

                        Inilah mahar scrapbook kita

                        KEBAYA AKAD

                        Warna putih untuk akad memang terlalu mainstream. Tapi mungkin karena doktrin bahwa 'putih itu suci' udah terlalu melekat dalam otak gue sejak lama, jadilah untuk akad gue tetep memilih busana bernuansa putih. Kebaya akad gue yang warnanya putih itu, gue jahit sendiri di salah satu penjahit rekomendasian temen nyokap. Namanya Penjahit Sadewo. Lokasinya nggak jauh dari rumah gue.

                        Walaupun penjahit rumahan, ternyata orderannya banyak banget. Meski udah dibantu beberapa orang asisten, ternyata doi tetep kewalahan. Saking banyaknya orderan, ownernya nggak mau terima jahitan lagi untuk kebaya yang mau dipake di bawah bulan Maret. Seinget gue, waktu itu gue masukin bahan kebaya gue dan nyokap untuk dijahit awal Januari. Karena kebayanya bakal dipake bulan Juni, ownernya menyanggupi jadi awal Mei. Dan tepat sesuai janjinya, tanggal 4 Mei kebaya udah ada di tangan gue. :-)

                        Selain emang jahitannya yang menurut gue oke dan nyaman dipake, ongkosnya juga murmer sekali, pemirsa! Kalau ada CPW yang dengan bangganya pamer harga jahit kebayanya bisa mencapai jutaan rupiah, gue sih santai ngomong kalau ongkos jahit kebaya gue cuma Rp. 350.000,- aja, dong! Haha. Bustiernya gue beli terpisah yang udah siap pakai warna broken white dengan harga Rp. 150.000,- aja. Hemat, hemat, hemat! *kegirangan goyang ngebor*

                        Bahan kebayanya gue beli di toko kain Ratu Kebaya di daerah pertokoan Simpur Mall Tanjung Karang. Harga bahan yang awalnya Rp.150.000,-/m, karena lagi ada diskon jadinya cuma Rp.85.000,- aja per meternya! Lucky! ^^

                        Suka banget deh sama motif brokatnya! (≧▼≦)

                        Biar keliatan anggun dan njawani banget saat akad, gue sengaja memilih design kebaya model kutu baru yang simpel. Gue juga minta nggak usah dikasih banyak payet soalnya brokatnya sendiri udah rame motif dengan kombinasi benang maroon yang emang sesuai dengan tema warna kewongan. Pengennya sih kebaya akad nggak terlalu heboh biar bisa dipake lagi untuk acara lain setelahnya. Tetep ya nggak mau rugi! :p

                        Waktu fitting kebaya
                        Kebaya waktu dipakai di hari H
                        Penampakan full kebaya di hari H

                        Kalau ada yang pengen jahit kebaya yang cihuy plus murmer, khususnya wilayah Bandar Lampung, bisa coba ke Penjahit Sadewo ini. Alamatnya di Jl. P. Buru, Gg. Balam, No.12, Way Halim Permai. Oya, khusus hari Minggu dan tanggal merah mereka libur, ya! :-)

                        Ocreh, sekian curhatan akad gue. Tentang resepsi dan berbagai vendor yang gue pake di acara kewongan gue bakalan menyusul, ya! Semoga aja bisa manfaat bagi yang butuh referensi. Jaaa...! ^^

                        Thursday, 15 August 2013

                        Sekarang... NYONYA RIZARD yang SAH! ^_^

                        Huwaaaa... udah banyak banget sarang laba-labanya ini blog!!! Lamaaaaaa banget gue hibernasi-nya!!!! Udah lewatin bulan puasa, lebaran, dan yang pasti udah lewat hari bahagia gue menjadi ratu sehari. Hehehe.

                        Eniwei, mulai entri ini, gue bakal pake lagi kata 'gue', walaupun mungkin nggak bakal nutup kemungkinan si kata 'aku' bakal masih suka gue pake juga untuk nulis entri-entri laen kalau gue lagi mood. Eum... galau sih ya. Karena dulu pernah nulis, biar lebih beradab aja ngeblog nulisnya pake 'aku' ketimbang 'gue'. Tapi kok lama-lama gue malah berasa kaku, ya? Atau cuma perasaan aja? Haha!

                        Oke, lupakan drama si 'gue' dan si 'aku'. Niat nulis entri kali ini sebenernya buat ngebahas soal status eikeh yang sekarang udah berubah dari "Nona" menjadi "Nyonya". Tepatnya sih, Nyonya Rizard, istri SAH dari Tuan Rizard! Asssiikk!!! \(^o^)/

                        Alhamdulillah, pernikahan kami berjalan lancar di hari Minggu, 23 Juni 2013. Sehari sebelumnya, hari Sabtu tanggal 22 Juni 2013, diadain acara Seserahan terlebih dahulu. Acara Seserahan berupa penyerahan 13 kotak seserahan dari pipi ke gue dan pemberian 5 kotak angsulan dari gue ke pipi, yang isinya adalah macem-macem keperluan kami dan syarat nikah dalam adat Yogya. Acara ini juga sekaligus 'menyerahkan' si calon mempelai pria alias pipi untuk 'dititipkan' semalaman pada keluarga gue si calon mempelai wanita. Istilah Jawa-nya sih kalau nggak salah Ngenger. Jadi selesai acara Seserahan pipi nggak pulang lagi bareng rombongan, tapi langsung nginep di salah satu rumah tetangga. Tujuannya biar pipi si calon mempelai pria bisa hadir tepat waktu dan nggak ada halangan apapun menjelang ijab qabul esok harinya. Katanya sih tradisi Ngenger ini udah ada dari dulu di kalangan masyarakat Yogyakarta. Dan tradisi ini sengaja dilakukan sama ortu karena emang dari awal pernikahan gue bernuansa Yogya, sesuai trah leluhur gue yang emang dari Yogya tulen :)

                        Baidewei, bertepatan di hari Seserahan tanggal 22 Juni 2013 itu, bokap ultah. So, jadilah hari itu hari yang spesial banget. Bokap dan keluarga besar gue merayakan hari pertambahan umur bokap dengan sebuah pesta pernikahan dan menyambut calon mantu pertama di keluarga ^_^

                        Ini gue kasih pose kami yang berhasil diabadikan oleh sang fotografer Infra Photoworks di hari Seserahan. Hei, ada cerita di balik kebaya orange yang gue pake itu. Tapi nggak sekarang gue dongengnya. Ntar aja ya di posting laennya aja. Gue keep dulu sekarang :p


                        Daaan, di hari Minggu, 23 Juni 2013, akhirnya, berlangsunglah acara puncak yang ditungguin, yaitu Ijab Qobul dan Resepsi Pernikahan. Alhamdulillah, semua berjalan lancar... dan, yes, finally, gue adalah NYONYA RIZARD yang SAH sekarang!!! :D

                        Ini kami sesaat setelah ijab qobul di kamar pengantin. Rock 'n roll pose bareng mahar scrapbook yang gue bikin sendiri :3 #bangga
                        Ini pose narsis kami waktu Resepsi
                        Yang ini pose nakal di ranjang, ulah iseng si fotografer :p
                        So, itu dulu deh untuk postingan kali ini. Besok-besok dilanjut lagi yak! Ja ne!!!