Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label My Wedding. Show all posts
Showing posts with label My Wedding. Show all posts

Wednesday, 18 December 2013

Save the Day, Save the Budget!

"...dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-'A`raf [7] : 31)
Nggak sedikit temen gue para capeng yang nanya tentang segala tetek-bengek perkewongan, saat sebelum atau setelah gue merit. Dengan gaya bak seorang guru besar dalam hal perkewongan, gue menjawab semua pertanyaan mereka dengan berbagai jawaban super yang canggih nan diplomatis. Mereka pun bertepuk tangan riuh merasa terpuaskan atas jawaban gue. Oh okay, itu cuma imajinasi gue aja. The truth is gue menjawab pertanyaan mereka lebih kayak curhat ketimbang sharing. Ha-ha. Iya, kalau yang ini gue serius. Intinya adalah gue cuma bisa kasih jawaban sesuai sama pengalaman yang udah gue lewati. That's it.

Kebanyakan temen gue itu menanyakan berapa budget yang mesti dipasrahkan keluar untuk sebuah pesta kewongan. Maklum, hari gini dana emang jadi momok yang bisa bikin kewongan pending atau bahkan off sama sekali. Kalau kasusnya gini kasian juga, ya? Apalagi kalau gejongnya minim, biaya hidup bengkak, dan nabung cuma bisa recehan ala kadarnya. Kalau kayak gitu, sampe Monas pindah ke bulan juga elo nggak bakal kawin-kawin, dong! :D


Sebenernya kalau niat elo pengen sah aja secara hukum agama dan negara, cuma modal Rp. 500.000,- juga udah bisa, kok! Eum... teorinya sih malah jauuuh di bawah itu. Nih, buat temen-temen gue tercintah dan para capeng yang belum tahu, berdasarkan PP no. 51 tahun 2000 dan PP no. 47 tahun 2004, biaya pencatatan perkawinan di KUA sebenernya cuma Rp. 30.000,- aja! Seriusan, dengan 30 ribu perak doang elo udah bisa kimpoi! Itu biayanya bahkan lebih murah dari harga paket hematnya McD, cing! Tuh, kudunya biaya kewongan mah nggak perlu jadi momok lha ya, bray!

Iya. Emang gitu. Harusnya sih. But c'mon, get real! Masalahnya sekarang adalah gimana kalau perkimpoian nan sakral elo itu kudu disangkutpautin sama pengakuan secara sosial dan budaya. Let's say, resepsi misalnya. Bagi yang mampu atau memaksakan mampu, biasanya kepentok sama yang namanya gengsi. Gengsi kalau pestanya cuma sederhana, gengsi kalau nggak di gedung mewah, gengsi kalau nggak pake vendor terkenal bin mahal, dan segala gengsi lainnya. Oh, dan jangan lupakan orang tua. Kebanyakan kasus, justru mereka yang biasanya berandil besar punya hasrat gengsi dalam pesta pernikahan anaknya. Nah, ini letak momok menakutkan itu sebenernya.

Pengalaman kewong kemarin, alhamdulillah segala per-gengsi-an itu nggak ada dalam kamus gue. Gue sejak awal mutusin untuk mengadakan resepsi sederhana di rumah. Alhamdulillah ortu asyik-asyik aja. Bermewah-mewah di gedung sebenernya bisa aja. Tapi buat apa? Apa itu menjamin gue nggak bakal mewek setelahnya karena duit bertus-tus jut-jut ludes dalam sekejab hanya demi perayaan beberapa jam? Terlebih seandainya duit tus-tus jut-jut itu ternyata hasil ngutang sana-sini? Aih, itu lebih menakutkan bagi gue daripada sekedar mengejar gengsi, ya nek!

Gue ada cerita sedikit yang bisa kita renungin sama-sama. Di salah satu forum situs yang membahas tentang berapa biaya yang dikeluarkan untuk merit, beberapa orang mengaku menipiskan dompet mereka mulai ratusan juta bahkan hingga 1 M cuma buat resepsi! Wow pake banget! Angka yang super fantastis buat gue yang rakyat jelata ini. Kalau beli es cendol bisa untuk persediaan berapa tahun tuh? Entah mereka adalah para pengejar gengsi atau cuma orang-orang yang kebingungan buang duit ke mana saking banyaknya. Tapi anehnya, setelah pengakuan dosa itu, mereka terkesan menyesali tiap rupiah yang mereka kucurkan itu. Kayaknya mereka sadar kalau pada akhirnya begitulah sosial-budaya menjalankan perannya. Apa para tamu yang dijamu dengan segala kemewahan resepsi bakal peduli kalau duit yang punya hajat ludes demi jamuan tersebut? Nggak. Nenek-nenek salto juga tahu. Ujungnya tinggal gigit jari sama gengsi. :p


Nah, ini gue cuma sekedar berbagi ya, bukan bermaksud doktrin apalagi menggurui, gue punya tips tersendiri untuk menghemat budget kewongan kemarin. Anggep aja ini sekaligus menjawab pertanyaan temen-temen yang udah nanya ke gue. Gue cuma menulis ulang pengalaman gue berdasarkan pemikiran simple gue tentang prinsip hemat bin irit (bukan pelit) dalam budgeting perkimpoian. Hopefully helpful! ^_^

1. Se-galaksi bima sakti juga tahu, kalau pengen hemat ya adain resepsi sederhana aja di rumah. 
Yup! Itu bisa memangkas biaya sewa gedung, dekorasi, transportasi, charge vendor, dan printilan lainnya. Terbukti, setelah hitung-hitungan bareng nyokap, budget resepsi gue bisa mencapai 2x lipat kalau di gedung. Buat gue, itu duit yang gede banget. Bisa buat DP rumah, kebeli motor baru, dan biaya beranak. Tapi kalau rumah elo nggak memungkinkan, cari alternatif gedung yang murah atau resto juga bisa. Tapi jangan langsung tergiur harga sewa murah. Tanya lagi detail harga di luar biaya sewa. Justru biasanya yang bikin bengkak anggaran itu ya karena ada charge tambahan lagi di sana-sini dari pihak gedungnya.

2. Semakin banyak tamu yang diundang, semakin langsing dompet elo! :D
Makanya, pastiin bener-bener list undangan elo. Soalnya ini berkorelasi sama porsi catering yang dipesen, undangan yang dicetak, souvenir, dan seterusnya. Pengalaman gue, jumlah tamu yang bakal diundang kudu didiskusiin bener-bener dulu sama ortu. Kalau udah ada dealing sekian orang, bisa memudahkan budgeting printilan lainnya. Yang pasti, make sure apakah mengundang sekian orang dan menghabiskan sekian rupiah untuk jamuan mereka itu sesuai kemampuan finansial elo atau nggak? Kalau nggak, ya jangan dipaksain! Undang orang-orang terdekat aja yang elo kenal, kayak keluarga, para sahabat, dan tetangga kiri-kanan.

3. Makanan memonopoli 50% (bahkan lebih) dari total anggaran.
Makanan adalah hal yang paling krusial dari sebuah pesta. Faktanya, tamu yang datang ke resepsi pasti mengincar makanan yang ada di pesta itu. Bahan gosip hits emak-emak sekompleks dari sebuah resepsi pernikahan mayoritas disebabkan karena makanan yang disajikan, bukan karena dekorasi atau printilan lainnya. Kalau nggak mau repot, elo bisa pesen catering. Nggak mesti catering terkenal nan mehong, yang penting elo yakin catering itu punya jaminan kualitas dan cita rasa masakannya jempolan. Kalau mau lebih hemat, minta bantuan keluarga atau tetangga elo yang pinter masak. Selain rasa, jumlahnya juga harus mencukupi. Perhitungan porsi buffet yang elo sajikan kudu jumlah tamu dikali 2, dengan asumsi tamu yang diundang biasanya mengajak orang lain untuk menemaninya. Perhitungan ini mutlak kalau elo nggak mau malu di hajatan elo sendiri karena kekurangan makanan. Terbukti, dengan perhitungan macam gini, para tamu yang dateng ke resepsi gue (yang ternyata lebih rame dari yang diperkirakan), semua kebagian makanan sampe acara kelar. Makanannya malah sisa banyak jadi besoknya masih bisa berbagi rezeki lagi ke para tetangga. Alhamdulillah, ya! :D

4. JANGAN boros cuma buat undangan dan souvenir!
Sengaja banget gue capslock "JANGAN" yang artinya ya beneran jangan, nek! Banyak capeng menganggap kesan pertama dari sebuah pernikahan dilihat dari seberapa bagus atau mewahnya undangan. Let me say this: sebagus atau semewah apapun undangan elo, ujungnya bakal berakhir di kotak sampah! Nah, suck it! Undangan tuh yang penting siapa yang punya hajat, lokasi, dan waktunya terpampang jelas. Souvenir juga gitu. Pilihlah souvenir yang memiliki manfaat, bukan souvenir yang mehong tapi cuma bakal jadi pajangan doang. Buang-buang duit itu namanya. Kalau elo kreatif dan pengen lebih hemat, undangan dan souvenir bisa elo bikin sendiri. Kalau gue, dengan memilih undangan dan souvenir ber-range harga 2.000-an perak aja, pastinya kocek yang elo keluarin buat DP motor matic yang murah lebih gede dibanding kocek yang gue keluarin buat order 600 pcs undangan dan 650 pcs souvenir kewongan gue kemarin. Biaya itu udah termasuk ongkirnya dari Jogja ke Bandar Lampung. Meski murce meriong, nyaris semua tamu yang dapet undangannya bilang kalau undangan gue unik. Nggak sedikit juga dari mereka yang terinspirasi pengen order undangan sejenis. Tuh, yang keren nggak mesti mehong, kan? ;-)

5. Pilih dekorasi minimalis dan hindari menggunakan bunga segar.
Atas nama pengiritan, dekorlah resepsi elo seminimalis mungkin tapi tetep cantik. Nggak perlu pake bunga segar sebagai dekorasi. Karena selain harganya yang mahal, bunga segar ujungnya cuma bakal jadi sampah selesai acara. Sejauh pengamatan gue tiap dateng ke resepsi orang, dekorasi full bunga segar adalah pemborosan paling nyata dari sebuah pesta pernikahan. Solusinya, elo bisa mempercantik dekor dengan bunga imitasi, diganti pake hiasan balon, atau barang-barang daur ulang juga nggak kalah seru. Gue memilih alternatif pertama untuk dekorasi resepsi gue dan terbukti tetep manis. Percaya deh, tamu nggak bakal terlalu ngeh sama dekorasi elo. Mending duit dekornya elo alokasikan ke makanan. Soalnya seheboh atau seminim apapun dekorasi pesta, nyatanya tamu PASTI lebih peduli sama makanannya! :D

6. Baju pengantin terbaik adalah yang disewa BUKAN dijahit.
Ini kalau elo mikirnya hemat total. Dan gue setuju. Banyak gue denger cerita penyesalan manten gara-gara waktu merit lebih milih menjahit sendiri bajunya dibanding menyewa cuma demi kesempurnaan penampilan yang semu. Bahkan ada yang sampe pake jasa designer dan bajunya kudu full payet atau dihiasi segala macem batuan, mulai batu swarovski sampe batu kali. Hihi. Padahal ya pemirsa, tuh baju cuma bakal dipake sekali seumur hidup, itupun cuma beberapa jam. Gue berani taruhan, selesai acara bajunya cuma nangkring doang menuh-menuhin lemari. Gue bisa ngomong gini karena denger curhatan temen gue sendiri. Sekian jeti dia hamburkan cuma demi menjahit seonggok gaun impian yang nggak ada gunanya sekarang. Dia sadar mestinya saat itu dia bisa lebih wise untuk menyewa aja baju pengantinnya. Biayanya jauh lebih murah dan nggak berakhir pada pemborosan bin mubazir.

7. Nggak perlu upacara adat yang kelewat lengkap.
Sangat disarankan buat elo yang emang punya dana super mepet, nih! Seringkali ketika mengadakan pernikahan anaknya, orang tua pengen pake upacara adat lengkap. Sebenernya nggak ada salahnya sih ikutin maunya ortu. Itung-itung pelestarian budaya juga. Masalahnya adalah hari gini upacara adat lengkap biasanya butuh biaya lumayan gede. Salah satu penyebab penggelembungan dahsyat anggaran merit karena upacara adat ini. Gue memilih nggak pake Siraman dan Midodareni karena alasan itu juga. Tapi demi membahagiakan ortu plus keinginan pribadi yang emang nggak mau identitas suku bangsa gue hilang, gue tetep mencomot sebagian kecil aja upacara adat Jogja di kewongan gue, yaitu Panggih dan Bubak Kawah. Gue juga mutusin memakai Paes Ageng biar identitas gue sebagai orang Jogja tetep kental. Menurut gue ini win-win solution untuk menengahi keinginan kita dan ortu, dan pastinya juga nggak keluar terlalu banyak budget.

8. Rajin survei vendor murah dan berkualitas.
Elo kudu rajin--kalau perlu lebih rajin dari anak SD yang belajar buat ulangan--untuk survei dan tanya sana-sini demi mendapatkan vendor berkualitas tapi damai di kantong. Surveilah mulai dari vendor abal-abal sampe vendor kalangan jetset (kalau yang ini harganya pasti ngajak berantem, tapi sekedar iseng cari referensi bolehlah! :p). Jangan dulu tergiur tawaran paket murah dari suatu vendor. Elo kudu perhatiin kualitas, jam terbang, portofolio, dan banding harga masing-masing vendor. Kalau perlu saat elo udah dapetin harga termurah, elo minta diskon lagi! Pasang muka tembok aja. Kan demi ngirit! *plak*. Kalau udah klik dan deal harga, pastiin setelahnya elo DP tanggal biar nggak keduluan sama yang lain. Pasalnya vendor tipe murce bin berkualitas sesungguhnya adalah vendor inceran sejuta umat! Nyahahaha!

9. Tentukan skala prioritas!
Terakhir dan ini yang menurut gue paling penting, elo kudu bikin skala prioritas! Demi mewujudkan pesta pernikahan spektakuler sepanjang abad, banyak capeng yang akhirnya terbuai pada keinginan dan kesenangan semata, bukan pada kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Nggak heran kalau akhirnya tabungan mereka jadi terkuras sampe kering kerontang. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya elo bikin list detail apa aja yang penting dalam pernikahan elo. Tendang jauh-jauh ke Neptunus segala hal yang nggak mesti ada. Misalnya aja dekorasi yang heboh bin mewah dan mencetak banyak-banyak foto prewed dengan frame segede gaban. Itu semua buat apaan? Mau bikin pameran tah? Pajangan doang, kan? Udah deh, batasi pengeluaran untuk hal-hal nggak penting kayak gitu!

Yak, akhirnya sampe di sinilah ocehan gue tentang segala hal menyangkut penghematan budget perkewongan. Sekali lagi, semua ini versi gue. Mungkin banyak capeng laen punya trik berbeda. Kalau ada yang mau nambahin, monggo tulis di komen. Kalau ada yang merasa cukup dengan yang gue posting ini dan pengen segera dipraktekkan, ya monggo juga! Happy wedding aja deh dari gue! :D

Saturday, 30 November 2013

Pesta Pernikahan yang Keren Itu... Simple, Sweet, and Intimate!

Okay, frontal banget kan judulnya? Sesuai sama pernikahan impian ala gue...

Sebenernya sih labil juga mau posting ini. Beberapa hari lalu gue kan baru aja ripiu tentang resepsi pernikahan gue, which is nggak begitu sesuai ekspektasi gue. Eh, tapi nggak gitu amat juga, sih! Simple? Yes! Sweet? Eum... bisalah! Apalagi mantennya... sweet banget! Hahay! Okay, skip! Intimate? A big nope! Absolutely nope!

Mestinya sih ini bakal jadi postingan nggak penting. Secara ya kewongan gue udah lewat dan alhamdulillah berlangsung lancar kayak tol. Bukan maksud hati juga nggak bersyukur sama kewongan kemarin, tapi gue jadi nyaingin galaunya abege alay kalau nggak ngemengin apa yang ada di otak gue yang nggak seberapa ini tentang pernikahan keren impian gue yang sebenernya. Yes, the voices are telling me that I should write this down and post it right away! Halah!

Cewek mana yang nggak pengen pernikahannya dihelat semewah putri kerajaan? Hampir semua cewek. Gue salah satunya. Jujur aja. Tapi apa daya, kantong tak sampai. Hihi. Tapi nggak masalah juga, sih! Soalnya pada kenyataannya gue justru lebih ngiler kalau lihat pernikahan yang diadakan secara sederhana. Sederhana dengan hanya mengundang keluarga dan orang-orang tersayang yang bener-bener kita kenal dan kenal kita. Sederhana dengan dekorasi simpel nan manis yang bikin teduh mata yang lihat. Sederhana dengan segala kehangatan dan keintiman. Itulah sebenernya pernikahan yang gue impikan selama ini dan bener-bener bikin gue ngiler setengah busyet. Dan oiya, satu hal lagi yang nggak boleh kelupaan! Lokasinya kudu di outdoor, di sebuah taman atau kebun yang rindang dengan suara kicauan burung, dan mungkin ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Pokoknya mirip romantic garden party ala bule-bule gitu, deh! Aww...!! Tuh kan baru nulis gini aja gue udah ngences. *brb mau ambil tissue dulu*

 

Nyatanya? Budaya. Yah, gue kepentok sama budaya yang udah ada dari zaman mbah gue pleigrup. Budaya yang sebagian besar bertentangan dengan ide gue tentang segala kerennya pesta pernikahan impian ala gue. Ditambah lagi sikon yang nggak mendukung yang ada di sekitar gue. Mau nggak mau, gue pun harus membuang salah satu wishlist dari dalam kotak harta karun yang selama ini gue simpan di dalam mimpi gue. Gue harus kompromi sama kenyataan--walau agak berat.


Kalau mau dijabarin kenapa akhirnya pesta pernikahan impian gue yang keren itu pupus, mungkin sampe teteknya Jupe kempes juga nggak bakalan kelar. *lha... mesyum kumat... bawa-bawa tetek -__-" *. Tapi beberapa intinya sih begindang, pemirsa...
  • Pertama, lokasinya nggak cucok, bo! Secara niat awal pengen resepsian di rumah aja biar hemat bin irit, kalau mau pake tema pernikahan ala gue itu--yang kudu outdoor kebon--bakalan nganar kalau diadain di rumah gue. Sebabnya rumah gue adalah tipe-perumahan-mepet-tembok-tanpa-halaman-cuma-ada-teras-itupun-sempit-dan-jalan-depannya-aspal-blas. Solusinya sih ya cari lokasi lain yang lebih pas, kayak di restoran bernuansa garden. Tapi pasti harga sewanya mahal, cing! Nah, biar lebih hemat, undang tamunya sedikit aja kali! Undang sedikit tamu? Langsung merosot ke poin kedua aja, deh!
  • Undang sedikit tamu dan jadilah anak durhaka! Oh okay, itu premis yang berlebihan. Orang tua gue nggak sampe ngutuk gue kayak gitu. Syukurnya. Tapi waktu gue mengutarakan niat mulia gue untuk mengundang beberapa orang aja, ekspresi nyokap jadi kayak pengen masukin gue ke perutnya lagi. Bokap juga langsung kayak pengen bantuin nyokap masukin gue ke perutnya nyokap. Dan akhirnya gue pun cuma bisa pasrah. Ya iyalah... daripada gue balik lagi ke perut? Nggak sih, cing! Intinya mah orang tua gue nggak mau jadi bahan gosip empuk orang-orang yang nggak diundangnya. See? Elo nggak undang mereka di hajatan elo, maka siap-siap jadi selebriti dadakan. Pastinya in a negative way. That's the fact. Shit. Rempongnya resepsi kalau udah dihadapkan pada budaya sosial macam gini, ya? *ngobrol sama plastik kresek*
  • Garden party itu budaya bule, kita mah nggak kayak gitu. Ya emang iya. Gue inget kakak gue pernah bilang kalau garden party kayak yang gue pengen itu nggak sesuai sama budaya dan adat kita. Di mana nggak sesuainya juga gue nggak ngerti. Emang sih pesta dengan konsep garden party begindang masih jarang banget diadain di tempat gue--yang masyarakatnya cenderung mainstream bahwa pernikahan adalah pesta formal--jadi mungkin bakal janggal dan ada rasa aneh bagi tamu. Tapi buat gue sih justru unik. Dan gue emang suka segala hal yang di luar kebiasaan umum. Ah, percuma. Tetep aja ide gue dianggep ngasal. -__-
Seandainya--boleh kan berandai-andai walaupun nggak bakal kejadian juga--seandainyaaa... aja kalau waktu itu resepsi gue bisa digelar sesuai konsep yang gue pengen, gue pengen banget garden party dengan tema njawani yang kental. Dekorasinya tetep simpel tapi semua kudu bernuansa etnik Jogja. Ada loro blonyo, gamelan, sepeda ontel, jarik batik, gunungan, dan printilan lain yang mendukung tema. Keren tuh pasti! Warnanya tetep pilihan gue ke maroon. Tapi pastel or putih juga cucok abis untuk pesta kebon begindang. Ah... sutralah... berandai-andai gini malah bikin gue nyesek! (lha... syukurin! Salah sendiri pake posting segala! #ngehek)


Yah... akhirnya sih kita udah sama-sama paham kalau tiap orang punya dream wedding-nya masing-masing. Tapi kita juga kudunya nyadar diri untuk nggak menyesali sesuatu yang nggak semestinya disesali sampe berlarut-larut kalau apa yang dimau nggak kesampean. Meski nggak sepenuhnya sesuai pengennya gue, pernikahan gue tetep berkesan buat gue. Sampe kapan pun. Hari terpenting di hidup gue, nggak mungkin nggak berkesan, kan? Gue bersyukur karena gue masih bisa mengadakan resepsi dan mengundang banyak tamu. Banyak orang di luar sana yang boro-boro resepsi, bisa bayar administrasi KUA tanpa ngutang aja udah syukur. Atau orang-orang lainnya yang mungkin bisa mengadakan resepsi perfect dan mewah, tapi pernikahannya berakhir dengan perceraian. Jadi, apa lagi alesan gue untuk nggak mensyukuri rezeki dan semuanya yang melancarkan pernikahan gue? :-)

Gue juga mengingatkan diri gue sendiri bahwa pernikahan bukan cuma antara kita dan dia. Tapi juga ada orang tua dan keluarga di sana. Orang tua membebaskan gue untuk memilih sendiri laki-laki yang pantas gue jadikan suami. Ada restu orang tua yang nggak mungkin bisa gue gantikan hanya demi ego atas sebuah simple, sweet, and intimate garden party semata. Yah... meskipun pendapat gue tetep belum berubah kalau konsep pernikahan kayak gitu emang keren, tapi... orang tua gue dan restunya itu lebih keren, cing! (eh, itu nggak salah beneran gue yang nulis kan, ya?) *takjub sendiri*


*) Gambar: berbagai sumber

Monday, 25 November 2013

Review Resepsi (Sederhana)

Sekarang lagi hits banget resepsi pernikahan di gedung mewah. Demi mengikuti tren (atau gengsi?), banyak capeng yang kayaknya 'mewajibkan' diri agar pesta pernikahannya nanti juga diadakan di gedung dengan segala kemewahan sealaihum gambreng. Sah-sah aja selama mampu. Lain ceritanya kalau 'memaksakan' untuk mampu, ya! Jujur, gue salah satu orang yang nggak mau repot memaksakan itu.

Sejak awal, gue pengen resepsi pernikahan cukup diadakan dengan sederhana di rumah. Hemat. Itu poin utamanya. Gue pikir budget untuk sewa gedungnya lebih baik dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting atau tambahan biaya hidup setelah merit. Kalau toh ada juga gedung yang harga sewanya murce di bawah sepuluh jeti, gue tetep keukeuh pengen di rumah aja. Soalnya walau harga sewa gedungnya murah, lha emang kita merit cuma butuh gedung kosong doang yang nggak pake kursi dan dekorasi? Belum lagi charge vendor non-rekanan gedung, transportasinya, deesbre deesbra. Itu semua butuh duit yang buanyak bukan daon kelor campur tissue plus nasi bungkus aja, masbro! So, a big no no for me! Sekali lagi, daripada menghamburkan duit hanya untuk perayaan sehari aja, mending duitnya bakal tabungan masa depan gue dan pipi.

Selain itu, bagi gue rumah adalah venue yang punya fleksibilitas tinggi soal waktu. Kita bisa memulai dan mengakhiri pesta kapan aja kita mau. Kalau di gedung, dateng telat dikit aja bisa berabe yang biasanya sih berimbas pada nggak kebagian makanan. Ngenes. Klise dan klasik, tapi akhirnya rumah tetap pilihan venue resepsi ideal bagi gue. Kecuali kalau ada yang mau modalin nikahan gue dengan budget tak terhingga dan gedungnya bisa disewa sehari semalam tanpa biaya tambahan. Haha!

Resepsi gue dimulai dengan upacara Panggih. Klik aja gambarnya untuk lihat lebih jelas ^^

Acara resepsi gue berlangsung di hari yang sama setelah akad nikah, yaitu Minggu, 23 Juni 2013, tepat jam 10 teng sesuai schedule. Beda banget sama akad yang kudu molor setengah jam gara-gara manten dodol (take a peek cerita akad). Tradisional Jogja bernuansa warna maroon jadi tema resepsi gue. Acara diawali dengan upacara Panggih ala Jogja, upacara Bubak Kawah (makna simbolis dalam adat Jawa bahwa saat itu orang tua gue mantu pertama), Tari Karonsih dan pelepasan sepasang merpati, ditutup doa, and the last... acara santap-menyantap! Sementara para tamu pada binal menyerbu buffet dan pondokan biadab yang bikin nggak kuat iman, mantennya malah langsung sibuk riang gembira meladeni para tamu lainnya yang nggak binal sama buffet dan pondokan yang ngebet foto bareng kita tiap abis salaman. Hoho! *manten sok ngartis*

Upacara Bubak Kawah, Tari Karonsih, dan pelepasan sepasang merpati. Klik gambarnya untuk memperbesar ^^

Eniwei baidewei nowei, walau niat awalnya diadakan dengan sederhana di rumah, pada akhirnya resepsi gue malah jadi meriah, sodara-sodara! Dipastikan lebih dari 1.000 tamu yang hadir. Sebenarnya gue cuma pengen mengundang sedikit orang. Tamu gue sendiri cuma terdiri dari para sahabat dan rekan kantor yang nggak lebih dari 50 orang. Tapi rencana itu menguap begitu aja. Orang tua gue sangat nggak setuju dengan ide itu. Budaya kita yang masih terlalu mainstream bahwa sebuah pesta pernikahan harus mengundang semua orang yang dikenal kayaknya jadi alasan utama orang tua menolak ide minim tamu gue. Kalau pada nggak diundang, nanti takut jadi omongan orang, takut disangka sombong, nggak enak hati, bla bla bla. -__-"

Gue pun mengalah untuk mau menambah undangan. Hasil kompromi nggak boleh lebih dari 600 orang, dengan pembagian 50% jatah bokap-nyokap dan 50% buat gue, pipi, mama calon mertua (waktu itu masih calon), dan para kakak. Tapi riilnya sih undangan untuk orang tua gue membengkak dan disiasati dengan (terpaksa) memangkas list tamu kita dan yang lain. Itu pun masih kurang juga karena kayaknya 600 undangan itu mestinya jumlah tamu orang tua gue sendiri. Ckckck! Gue dan pipi akhirnya (atau begonya?) malah latah mengundang semua teman yang layak diundang (yang totalnya buncit jadi 200-an orang!) melalui social media dikarenakan keterbatasan undangan fisik yang ngepres. Weleh... weleh... bener-bener luluh lantak intimate party impian gue! *jedotin kepala ke panci*

Tapi ya sudahlah, pemirsa... bagaimana pun pernikahan kan melibatkan banyak pihak termasuk orang tua, jadi saling menghargai aja. Meski di sana-sini masih banyak kekurangan dan agak melenceng dari planning awal, gue tetap bersyukur karena banyaknya tamu berarti banyak orang yang mendoakan kita. Yang penting acaranya berjalan lancar, tamu senang, makanan berlimpah bahkan sisa banyak, dan mantennya cakep! Yang terakhir itu ahey sekali! XD

Pada akhirnya, gue merasa pernikahan gue tetap sederhana, tapi meriah. Meriah tapi nggak berlebihan. Semuanya diselenggarakan sesuai dengan kemampuan dan alhamdulillah selesai acara masih ada sisa tabungan di ATM dan sisa dana lainnya yang kita pake untuk kredit motor. Yah... balik lagi ke prinsip, sih! Sesederhana atau semewah apapun, yang namanya pernikahan tetap aja disebut pernikahan. Resepsi hanya sebuah ceremonial belaka. Yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga setelah resepsi itu berlangsung. Ya, nggak? *kesambet Mario Teguh*

Sepintas soal vendor (review detailnya segera menyusul, ya! ^^ )
  • Make Up, Adat, dan Dekorasi: Salon Shinta (Ibu Sundari). Penampakan bijimane ketiganya diklik aja foto-foto yang eksis di sini, ya! :p
  • Catering: Catering Kartini. Ueenaaak (pengakuan dari beberapa teman sih mereka sampe ketagihan pengen makan mulu! :D ), dapet diskon dan bonus, dan masih sisa banyak walau tamu rame banget!
 
  • Dokumentasi: Infra Photoworks (Mas Irfan and team). Yuk monggo kamu nilai sendiri jepretannya Mas Irfan dkk melalui foto-foto yang gue pamerin di posting ini! ;-)  
 
    • Tenda: Estu Sae Group. Sori tapi gue harus jujur, ini vendor paling nggak banget di acara gue. Gue bakal curhat di posting khusus vendor. :'-(
    • Entertainment: Juwita Music. Gue nyebutnya sih the Awesome Juwita of the Kampung. Alasannya? Cek posting khusus vendor aja, ya! :p
    • Undangan dan Souvenir: Jogja Kreasi dan Ucok Souvenir Jogza. Disesuaikan tema yang tradisional, undangannya bambu dengan desain khas Jogja. Souvenirnya juga dipilih yang kesannya tradisional tapi punya manfaat kayak centong nasi kayu sonokeling itu. :-)
        • Scrap-Guest-Book: Crafty Patty. Udah pernah dibahas scrap-guest-book gue di tekape ini, jadi silakan diintip aja or ditunggu review-nya lagi di posting khusus vendor! ^^
         
                • Henna dan Nail Art: Pita Henna dan Belleza Salon. Cerita nail art sebenarnya udah pernah dikupas di sini. Tapi untuk vendornya, bakal dibahas khusus, ya! ^^
                 

                  The People:
                  My family
                  Pipi's family
                  Our family
                  dengan para kakak dan para adik :3
                  Foto bareng girlband paling fenomenal abad ini: The Mbah! Nyahaha! *dilempar sirih*
                  My big famz
                  My besties ever: SanDeGA! Kita udah sohiban selama kurang lebih 12 tahun! Sayang, minus 3 personil di foto ini. Cho, Chibi, dan Ceatinx ada di luar kota dan sikonnya nggak memungkinkan balik ke Bandar Lampung. Hiks! Tapi Cho diwakilin nyokap dan adiknya dateng ke resepsi. Kalau Chibi dan Ceatinx kasih selamat dan doa via SMS dan pesbuk. Dari ki-ka: Bhoim, Mami Anya, Chiki, dan Alya. Fyi, nama yang terpampang itu adalah nick masing-masing bukan nama asli! :p
                  Ria (left) dan Keti (right) ini juga sohibul khoir gue sejak ngampus dulu. Terutama Ria yang sering ikutan gue nge-gahol bareng SanDeGA. Eh, si Ria ini lagi demen banget curhat soal ke-gundah gulana-annya dia akibat jombloisme sialan, pemirsa! Apakah ada laki-laki di luar sana yang bersedia menyingkirkan kegalauannya? Hayoo... tunjuk kaki! :p

                  Terakhir adalah galeri foto Duo Narsis (baca: gue dan pipi) yang ngeksis di kewongan. Silakan dicekibrot dan muntah berjamaah! Wkwkwk! Kalau perlu nggak usah dilihat aja, deh! Karena virus narsis itu bisa menular! Nyahahaha! *ngakak salto*
                  • Ageman/busana pertama: Paes Ageng Kanigaran
                  • Ageman/busana kedua: kebaya modern maroon

                        Friday, 25 October 2013

                        Review Akad Nikah

                        Gue kebangun dari tidur-tidur ayam gue yang cuma sekitar 2 jam-an karena kaget liat keluarga pipi yang tiba-tiba dateng ke rumah jam 4 subuh. Gue bengong aja gitu liatin keluarga pipi dan malah mikir ngapain mereka pagi-pagi buta ke rumah gue? Ketelmian gue baru mulai hilang setelah nggak lama kemudian Ibu Sundari dan Tim Salon Shinta-nya ikutan nongol. Twew! Jenius banget dah! Bisa-bisanya dong gue lupa kalau hari itu gue bakalan merit! Dengan nyawa yang masih belum kumpul sepenuhnya, gue pun langsung minggat ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, setelah itu baru siap didempul. Haha... parah, ya! Sumpah parah banget dan ini beneran gue alamin! *tepokin jidat dengan binal*

                        Yak, begitulah gue mengawali hari paling bersejarah di hidup gue pada Minggu, 23 Juni 2013. Sangat brilian! Akibatnya jelas aja, jadwal akad yang semestinya jam 7 teng dimulai jadi molor setengah jam. Padahal sebelumnya beberapa kali penghulunya dateng ke rumah buat mengingatkan kalau akad nggak boleh ngaret soalnya jadwal beliau menikahkan pengantin di hari itu padet banget. Dan karena kebetulan gue dapet giliran jam pertama, maka kelancaran waktu akad-akad setelah gue tergantung on time atau nggaknya akad gue. Huhu... sumpah jadi nggak enak banget sama penghulunya! Untungnya Pak Penghulu orang yang sangat sabar. Beliau tetep menjalankan tugasnya dengan baik sampai selesai, walau setelah itu langsung buru-buru pamit untuk lanjut ijab-qobul-in di tempat lainnya. Makasih banyak dan mohon maaf, ya Pak! :-(


                        Akad nikah gue berlangsung sederhana di rumah orang tua gue di daerah Way Halim Bandar Lampung. Akibat waktu yang molor dari jam seharusnya, akad gue dilakukan secara kilat. Setelah pembacaan ayat Al-Qur'an dan khutbah nikah singkat dari Pak Penghulu, pipi dan bokap gue latihan sebentar untuk ijab-qobul. Setelah dipastiin latihannya oke sama para saksi dan hadirin, akhirnya ijab-qobul sebenarnya langsung dilakukan. Dan cuma dalam hitungan sepersekian menit, gue resmi jadi bini orang! Hyaaa... udah tho begini doang? Nggak ada sesuatu yang heboh gitu? *dan gue pun ditimpuk I-Phone 5 sama pipi*

                        Saat ijab-qobul
                        Penyerahan mahar. (Dok. pribadi)
                         

                        Tapi beneran, deh! Mungkin kelupaan karena terburu-buru, setelah penghulunya meminta kami menandatangani dokumen-dokumen, yang dilanjut penyerahan mahar sejumlah Rp. 23.613,- yang dihias (oleh gue sendiri *bangga* ) dalam bentuk scrapbook, penghulunya langsung cabut. Padahal di atas meja akad udah disiapin sepasang cincin nikah yang kudunya disematkan pada saat itu juga. Untung gue bisik-bisik ke bokap soal cincin itu dan akhirnya penyematan cincin pun dilakukan tanpa aba-aba penghulu.

                        Oya, ada kejadian lucu waktu penyematan cincin nikah. Waktu gue mau pasangin cincin nikah pipi, cincinnya kekecilan, bo! Padahal waktu dulu kita mesen, ukuran cincin pipi udah pas (wah, cincinnya yang mengecil atau pipi yang melebar, ya? :p). Jadi gue mesti maksain itu cincin nyumpel di jari manisnya pipi. Alhasil gara-gara liat gue yang kesusahan masukin cincin ke jari pipi, para hadirin kompak ngetawain kita berdua, dong! Gue pun jadi ikutan nyengir. Akhirnya suasana akad yang sempet tegang jadi cair seketika. Wkwk! And you know what? Menurut cerita nyokap, kejadian kayak gini persis pernah dialamin juga sama bokap dan nyokap waktu mereka merit dulu, di mana nyokap juga kesusahan masangin cincin nikah di jari bokap karena cincinnya kekecilan! Beneran ini mah, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya lah, ya? :D

                        Lancaaar aman jaya cincinnya masuk ke jari gue
                        Cincinnya mentok di situ aja! Jiakakak!
                        Gue nahan pengen ngakak itu sebenernya! XD

                        Finally, walaupun ada sedikit kekacauan waktu dan beberapa kejadian di luar skenario, akad gue alhamdulillah berjalan lancar. Cuaca pagi itu cerah banget dan nggak ujan sama sekali, padahal saat itu lagi musim ujan. Pipi juga cuma sekali aja mantap mengucapkan qobul-nya, tanpa membaca teks. Latihan hapalannya sukses ya, chayanx? :p

                        Kalau yang biasanya suasana akad bakal dihiasi dengan tangis haru, beda halnya dengan akad gue kemarin. Setelah penyematan cincin selesai, nggak ada yang namanya pamitan anak ke orang tua, sungkeman, pelukan, atau hal-hal lain yang biasanya terjadi saat akad dan memicu orang-orang nangis bombay. Bokap sendiri yang saat itu langsung ngasih kode ke MC kalau acaranya dipersingkat dan hadirin langsung diminta menikmati sarapan aja. Tissue yang sebelumnya disumpelin Ibu Sundari ke tangan gue (yang dimaksudkan buat jaga-jaga lap mata kalau gue mewek), rasanya jadi mubazir aja. Hihi. Akad hari itu pun berakhir dengan riang gembira aduhay tanpa ada setetes pun air mata. Wkwk! Canggih bener emang akad gue, kan? :D

                        Inilah mahar scrapbook kita

                        KEBAYA AKAD

                        Warna putih untuk akad memang terlalu mainstream. Tapi mungkin karena doktrin bahwa 'putih itu suci' udah terlalu melekat dalam otak gue sejak lama, jadilah untuk akad gue tetep memilih busana bernuansa putih. Kebaya akad gue yang warnanya putih itu, gue jahit sendiri di salah satu penjahit rekomendasian temen nyokap. Namanya Penjahit Sadewo. Lokasinya nggak jauh dari rumah gue.

                        Walaupun penjahit rumahan, ternyata orderannya banyak banget. Meski udah dibantu beberapa orang asisten, ternyata doi tetep kewalahan. Saking banyaknya orderan, ownernya nggak mau terima jahitan lagi untuk kebaya yang mau dipake di bawah bulan Maret. Seinget gue, waktu itu gue masukin bahan kebaya gue dan nyokap untuk dijahit awal Januari. Karena kebayanya bakal dipake bulan Juni, ownernya menyanggupi jadi awal Mei. Dan tepat sesuai janjinya, tanggal 4 Mei kebaya udah ada di tangan gue. :-)

                        Selain emang jahitannya yang menurut gue oke dan nyaman dipake, ongkosnya juga murmer sekali, pemirsa! Kalau ada CPW yang dengan bangganya pamer harga jahit kebayanya bisa mencapai jutaan rupiah, gue sih santai ngomong kalau ongkos jahit kebaya gue cuma Rp. 350.000,- aja, dong! Haha. Bustiernya gue beli terpisah yang udah siap pakai warna broken white dengan harga Rp. 150.000,- aja. Hemat, hemat, hemat! *kegirangan goyang ngebor*

                        Bahan kebayanya gue beli di toko kain Ratu Kebaya di daerah pertokoan Simpur Mall Tanjung Karang. Harga bahan yang awalnya Rp.150.000,-/m, karena lagi ada diskon jadinya cuma Rp.85.000,- aja per meternya! Lucky! ^^

                        Suka banget deh sama motif brokatnya! (≧▼≦)

                        Biar keliatan anggun dan njawani banget saat akad, gue sengaja memilih design kebaya model kutu baru yang simpel. Gue juga minta nggak usah dikasih banyak payet soalnya brokatnya sendiri udah rame motif dengan kombinasi benang maroon yang emang sesuai dengan tema warna kewongan. Pengennya sih kebaya akad nggak terlalu heboh biar bisa dipake lagi untuk acara lain setelahnya. Tetep ya nggak mau rugi! :p

                        Waktu fitting kebaya
                        Kebaya waktu dipakai di hari H
                        Penampakan full kebaya di hari H

                        Kalau ada yang pengen jahit kebaya yang cihuy plus murmer, khususnya wilayah Bandar Lampung, bisa coba ke Penjahit Sadewo ini. Alamatnya di Jl. P. Buru, Gg. Balam, No.12, Way Halim Permai. Oya, khusus hari Minggu dan tanggal merah mereka libur, ya! :-)

                        Ocreh, sekian curhatan akad gue. Tentang resepsi dan berbagai vendor yang gue pake di acara kewongan gue bakalan menyusul, ya! Semoga aja bisa manfaat bagi yang butuh referensi. Jaaa...! ^^